Selasa, 06 Mei 2008

Anak Palestina, Anak Indonesia dan Iwan Fals.


……Bagi masyarakat Palestina
Kekerasan sama indahnya dengan kelembutan

Palestina, sudah lebih dari separoh abad negeri ini dalam cengkeraman penjajahan. Kondisi ini memaksa anak-anak palestina kehilangan haknya untuk menikmati masa kanak-kanak yang seharusnya menjadi kenangan indah dalam hidup mereka. Bahkan, mereka juga kehilangan haknya yang paling penting demi masa depan mereka, sekolah. Mereka bukannya tidak mengalami masa pendidikan, tapi mereka terpaksa menempuh pendidikan yang berbeda sebagaimana lazimnya masa pendidikan untuk usia mereka. Anak-anak palestina belajar di tenda-tenda pengungsian karena rumah mereka terampas oleh zionisme, untuk secara karbitan bisa membaca dan menulis. Tidak penting bagi mereka pelajaran yang lain. Mereka diharuskan untuk segera bisa mengenal tulisan agar bisa membaca pamphlet-pamflet dan slogan-slogan kemerdekaan negeri mereka. Mereka dipaksa untuk bisa membaca strategi militer, bagaimana cara menghadapi tank-tank dengan batu-batu. Mereka diharuskan untuk bisa membaca “buku panduan” senapan-senapan perang. Semua itu, terpaksa mereka lakukan demi satu tujuan “Kemerdekaan”.


Walaupun, PBB sudah mengakui “adanya” Negara Palestina, namun sebagian besar tanah kelahiran anak-anak palestina masih berada dalam genggaman zionisme. Seandainya, kelak palestina mampu merdeka penuh (termasuk tanah-tanah yang terebut paksa), ada masalah lain yang juga mengkhawatirkan menghadang negeri ini. Anak-anak yang kehilangan masa kecil mereka sudah tumbuh menjadi dewasa. Para pemuda palestina ini sudah terbiasa dengan kekerasan semenjak kecil dan tidak ditunjang dengan pendidikan yang wajar. Bagaimana cara mereka mengatur negaranya…?

Indonesia, mempunyai keadaan yang sama dengan Palestina. Sama-sama dalam kondisi “perang”. Bedanya, Palestina melawan penjajahan, Indonesia melawan kemiskinan.

Anak-anak
Indonesia
, sebagian besar juga mengalami nasib yang sama dengan anak-anak Palestina. Kehilangan keindahan, masa kanak-kanak dan tidak mampu untuk bersekolah.

Sudah sering kita baca di media masa, bagaimana siswa Indonesia bunuh diri karena orang tuanya tidak mampu membayar biaya pendidikan yang sangat mahal bagi masyarakat bawah. Kerap kita lihat, bagaimana anak-anak kecil, terpaksa putus sekolah dan terpaksa atau dipaksa untuk bekerja mencari uang untuk makan sehari-hari. Bahkan banyak sekali anak-anak usia sekolah yang menjadi gelandangan. Pertanyaan yang sama timbul, bila mereka menjadi dewasa, apa yang “bisa” mereka lakukan…?

Kalau anak-anak Palestina, “terpaksa” melakukan kekerasan perang demi masa depan mereka, anak-anak Indonesia “dipaksa” menjalani kerasnya hidup.


Teringat akan syair dari Iwan Fals…….

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal

0 komentar:

 
© free template by Blogspot tutorial